LO FU PAN Kue khas Bangka Belitung Ko Ngian ; Makanan KHAS Hakka (khek) Bangka Belitung ; Kue KHAS Hakka(khek) Bangka Belitung ; Kue KHAS Melayu Bangka Belitung ; Archibabel 2010 – Pariwisata Babel ; SEJARAH TIONGHOA BANGKA BELITUNG ; Thiam Pan Kue Keranjang Bangka Belitung ; Thew Fu Fa ; Bangka Island Information Summary
Group SEJARAH BANGKA BELITUNG INDONESIA
Group MAKANAN KHAS BANGKA BELITUNG
LIONG Bangka Belitung Masuk Daftar Rekor MURI*
龍邦加勿里洞于MURI
click gambar untuk memperbesar!
*Sumber Gambar dari Bapak Halim Susanto, Pinkong (Pangkal Pinang) Bangka posting di Group SEJARAH BANGKA BELITUNG INDONESIA
Menyambut Ko Ngian過年 , tahun baru imlek 2561 , Masyarakat Bangka Belitung邦加勿里洞 berbaur dan berpartisipasi didalam memeriahkan Ko Ngian過年 tersebut. Salah satu perhelatan massal yang dilakukan adalah dengan memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan membuat Liong龍 atau Naga dari bahan kayu dan kertas dan menempelkan Thiam Pan甜粄 atau kue keranjang di badan Liong龍 atau Naga tersebut. Panjang naga 312meter lebih, pembulatan ke bawah menjadi panjangnya 312 meter dengan total Thiam Pan甜粄 atau kue keranjang yang ditempelkan sebanyak 20.000kue. Saat Ko Ngian過年 atau Sincia, Liong龍 bersama dengan Barongsay merupakan atraksi gabungan yang wajib untuk memberikan keceriaan tahun baru imlek. Pemainan Liong龍 memberikan atraksi yang menunjukan hasil dari kerja seni dan kerja sama. Liong龍 atau Naga adalah mahluk di dalam mitologi tiongkok kuno. Pada zaman Dinasti Ming Liong龍 atau Naga dikisahkan memiliki 9 anak naga yang dalam dialek Hakka (khek)邦加 sering disebut Kiuliung九龍 atau dalam dialek Kongfu Kauwlung (kowloon).
Pertama, Pulao 蒲牢 (Baca : Phu Lau) atau Tulao 徒劳 (Baca : Thu Lau) karena lengking suaranya yang menbahana bila teraniaya, naga atau liong ini banyak dijadikan pegangan yang menempel di pucuk genta. Kedua, Qiu Niu 囚牛 (Baca : Chiu Niu) adalah naga yang memiliki kemampuan musik, sehingga banyak terdapat di alat-alat musik. Ketiga, Chi Wen 螭吻 (Baca : Che Wen) adalah liong berbadan ikan tanpa tanduk yang suka menelan susuatu, ia banyak di jadikan ornamen atap rumah “supaya menelan yang jahat, api dan angin ribut”. Keempat, Chao Feng 嘲风 (Baca : Chau Feng) adalah naga yang berbadan mirip singa, umumnya sebagai ornamen yang diletakan pada keempat sudut atap rumah. Kelima Ya Zi 睚眥 (Baca : Ya Ce) liong yang bermuka buas, suka membunuh dan bertarung, banyak dijadikan hiasan pada gagang pedang. Bi Xi 贔屭 (Baca : Pi Si) liong yang berbadan kura-kura, menyukai satra dan ilmu pengetahun. Umumnya dijadikan monumen pada jembatan atau pemakaman-pemakanan kuno. Ketujuh Bi An 狴犴 (Baca : Pi An) wujudnya naga ini seperti macan, kuat dan bertenaga. Suka akan hukum dan kebenaran, sebagai ornamen pada gerbang-gerbang penjara. Kedelapan, Suan Ni 狻猊 (Baca : Suen Ni) liong yang ini suka duduk dan isap tembakau 喜烟好坐 wujudnya seperti singa, banyak dirupakan sebagai ornamen pada kaki hionglu atau tempat hiong (hio). Kesembilan, Ba Xia (Baca : Pa Sia) naga ini suka air dijadikan ornamen pada tiang kayu jembatan, pada zaman Dinasti Ming terdapat pula pada alat pembunuh.
Informasi Bangka Belitung : Info@bukjam.com , Twitter Bangka Belitung : http://www.TWITTER.com/BUKJAM , Facebook Bangka Belitung : http://www.FACEBOOK.com/BUKJAM , Forum Bangka Belitung : http://www.bukjam.com
Misi Visi, Museum dan Galeri*
Museum Rekor-Dunia Indonesia didirikan atas prakarsa Jaya Suprana di kawasan industri JAMU JAGO, Srondol, Semarang pada tanggal 27 Januari 1990 diresmikan oleh Menko Kesra Soepardjo Roestam dan Menko Polkam Soedomo disaksikan oleh Ketua PMI Pusat Ibnu Soetowo dan Gubernur Jawa Tengah, HM Ismail. Museum Rekor-Dunia Indonesia kemudian popular dengan sebutan akronim MURI yang diberikan oleh Soepardjo Roestam pada upacara peresmian MURI. Tujuan kegiatan MURI murni pengabdian bakti-budaya dengan menghimpun data-data rekor superlatif yang hadir di Indonesia atau dibuat oleh putera-puteri bangsa Indonesia sebagai inspirasi penggugah semangat bangsa Indonesia untuk selalu berjuang mempersembahkan karsa dan karya yang terbaik di bidang keahlian masing-masing.MURI merupakan lembaga pertama di Indonesia yang khusus menghimpun data-data rekor superlatif di Indonesia. Pendirian dan pelaksanaan kegiatan MURI didukung sepenuhnya oleh kelompok- usaha JAMU JAGO.Ternyata sambutan masyarakat terhadap MURI luar biasa antusias hingga praktis setiap hari terjadi peristiwa penciptaan maupun pemecahan rekor di berbagai kota besar sampai pedesaan Indonesia yang diberitakan secara nasional mau pun internasional.Rekor-rekor yang diciptakan masyarakat untuk MURI bukan hanya rekor-nasional namun juga rekor-dunia. Kegiatan rutin MURI dilaksanakan Senior Manajer MURI, Paulus Pangka beserta staf kerabat-kerja MURI.Edisi perdana BUKU MURI atas prakarsa Wakil Ketua Umum MURI, Aylawati Sarwono akan diterbitkan PT Elex Komputindo, kelompok Gramedia pada HUT 19 dan ulang tahun ke-60 Pak jaya Suprana.
Museum dan Galeri.
Gedung MURI dibangun di kawasan industri Jamu Jago, Srondol Semarang. Luas ruang sekitar 600 m2 terdiri dari ruang ekshibisi data dan foto MURI, balai pertemuan dan ruang eskhibisi Museum Jamu Jago yang menampilkan foto-foto dan benda-benda bersejarah perusahaan Jamu Jago yang didirikan pada tahun 1918 di desa Wonogiri, Jawa Tengah oleh TK Suprana. Museum Rekor Dunia Indonesia terbuka untuk kunjungan umum tanpa dipungut biaya , setiap hari kerja Senin s/d Jumat mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 14.00. Bagi kunjungan rombongan turis, siswa sekolah, lembaga dianjurkan membuat reservasi kunjungan selambat-lambatnya dua minggu di muka melalui nomor telpon 024-7475172 atau menulis e-mail ke info@muri.org
*sumber tulisan www.muri.org
Pertama, Pulao 蒲牢 (Baca : Phu Lau) atau Tulao 徒劳 (Baca : Thu Lau) karena lengking suaranya yang menbahana bila teraniaya, naga atau liong ini banyak dijadikan pegangan yang menempel di pucuk genta. Kedua, Qiu Niu 囚牛 (Baca : Chiu Niu) adalah naga yang memiliki kemampuan musik, sehingga banyak terdapat di alat-alat musik. Ketiga, Chi Wen 螭吻 (Baca : Che Wen) adalah liong berbadan ikan tanpa tanduk yang suka menelan susuatu, ia banyak di jadikan ornamen atap rumah “supaya menelan yang jahat, api dan angin ribut”. Keempat, Chao Feng 嘲风 (Baca : Chau Feng) adalah naga yang berbadan mirip singa, umumnya sebagai ornamen yang diletakan pada keempat sudut atap rumah. Kelima Ya Zi 睚眥 (Baca : Ya Ce) liong yang bermuka buas, suka membunuh dan bertarung, banyak dijadikan hiasan pada gagang pedang. Bi Xi 贔屭 (Baca : Pi Si) liong yang berbadan kura-kura, menyukai satra dan ilmu pengetahun. Umumnya dijadikan monumen pada jembatan atau pemakaman-pemakanan kuno. Ketujuh Bi An 狴犴 (Baca : Pi An) wujudnya naga ini seperti macan, kuat dan bertenaga. Suka akan hukum dan kebenaran, sebagai ornamen pada gerbang-gerbang penjara. Kedelapan, Suan Ni 狻猊 (Baca : Suen Ni) liong yang ini suka duduk dan isap tembakau 喜烟好坐 wujudnya seperti singa, banyak dirupakan sebagai ornamen pada kaki hionglu atau tempat hiong (hio). Kesembilan, Ba Xia (Baca : Pa Sia) naga ini suka air dijadikan ornamen pada tiang kayu jembatan, pada zaman Dinasti Ming terdapat pula pada alat pembunuh.
