Posted by: bukjam | March 3, 2010

LIONG Bangka Belitung Masuk Daftar Rekor MURI

LO FU PAN Kue khas Bangka Belitung Ko NgianMakanan KHAS Hakka (khek) Bangka Belitung ; Kue KHAS Hakka(khek) Bangka Belitung ; Kue KHAS Melayu Bangka Belitung ; Archibabel 2010 – Pariwisata Babel ; SEJARAH TIONGHOA BANGKA BELITUNG ; Thiam Pan Kue Keranjang Bangka Belitung ; Thew Fu Fa ; Bangka Island Information Summary

Group SEJARAH BANGKA BELITUNG INDONESIA

Group MAKANAN KHAS BANGKA BELITUNG

LIONG Bangka Belitung Masuk Daftar Rekor MURI*
龍邦加勿里洞于MURI

Ko Ngian / Sincia / imlek bangka belitung 2010

Ko Ngian / Sincia / imlek bangka belitung 2010, Liong Bangka Rekor MURI 2010

click gambar untuk memperbesar!

*Sumber Gambar dari Bapak Halim Susanto, Pinkong (Pangkal Pinang) Bangka posting di Group SEJARAH BANGKA BELITUNG INDONESIA


Menyambut Ko Ngian過年 , tahun baru imlek 2561 , Masyarakat Bangka Belitung邦加勿里洞 berbaur dan berpartisipasi didalam memeriahkan Ko Ngian過年 tersebut. Salah satu perhelatan massal yang dilakukan adalah  dengan memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan membuat Liong atau Naga dari bahan kayu dan kertas dan menempelkan Thiam Panatau kue keranjang di badan Liong atau Naga tersebut. Panjang naga 312meter lebih, pembulatan ke bawah menjadi panjangnya 312 meter dengan total Thiam Panatau kue keranjang yang ditempelkan sebanyak 20.000kue. Saat Ko Ngian過年 atau Sincia, Liong bersama dengan Barongsay merupakan atraksi gabungan yang wajib untuk memberikan keceriaan tahun baru imlek. Pemainan Liong memberikan atraksi yang menunjukan hasil dari kerja seni dan kerja sama. Liong atau Naga adalah mahluk di dalam mitologi tiongkok kuno. Pada zaman Dinasti Ming Liong atau Naga dikisahkan memiliki 9 anak naga yang dalam dialek Hakka (khek)邦加 sering disebut Kiuliung九龍 atau dalam dialek Kongfu  Kauwlung (kowloon).

Pertama, Pulao 蒲牢 (Baca : Phu Lau) atau Tulao (Baca : Thu Lau) karena lengking suaranya yang menbahana bila teraniaya, naga atau liong ini banyak dijadikan pegangan yang  menempel di pucuk genta. Kedua, Qiu Niu 囚牛 (Baca : Chiu Niu) adalah naga yang memiliki kemampuan musik, sehingga banyak terdapat di alat-alat musik. Ketiga, Chi Wen 螭吻 (Baca : Che Wen) adalah liong berbadan ikan tanpa tanduk yang suka menelan susuatu, ia banyak di jadikan ornamen atap rumah “supaya menelan yang jahat, api dan angin ribut”. Keempat, Chao Feng (Baca : Chau Feng) adalah naga yang berbadan mirip singa, umumnya sebagai ornamen yang diletakan pada keempat sudut atap rumah. Kelima Ya Zi 睚眥 (Baca : Ya Ce) liong yang bermuka buas, suka membunuh dan bertarung, banyak dijadikan hiasan pada gagang pedang. Bi Xi 贔屭 (Baca : Pi Si) liong yang berbadan kura-kura, menyukai satra dan ilmu pengetahun. Umumnya dijadikan monumen pada jembatan atau pemakaman-pemakanan kuno. Ketujuh Bi An 狴犴 (Baca : Pi An) wujudnya naga ini seperti macan, kuat dan bertenaga. Suka akan hukum dan kebenaran, sebagai ornamen pada gerbang-gerbang penjara. Kedelapan, Suan Ni 狻猊 (Baca : Suen Ni) liong yang ini suka duduk dan isap tembakau 喜烟好坐 wujudnya seperti singa, banyak dirupakan sebagai ornamen pada kaki hionglu atau tempat hiong (hio). Kesembilan, Ba Xia (Baca : Pa Sia) naga ini suka air dijadikan ornamen pada tiang kayu jembatan, pada zaman Dinasti Ming terdapat pula pada alat pembunuh.

Informasi Bangka Belitung : Info@bukjam.com , Twitter  Bangka Belitung : http://www.TWITTER.com/BUKJAM , Facebook  Bangka Belitung : http://www.FACEBOOK.com/BUKJAM , Forum Bangka Belitung : http://www.bukjam.com

Misi Visi, Museum dan Galeri*

Museum RekorDunia Indonesia didirikan atas prakarsa Jaya Suprana di kawasan industri JAMU JAGO, Srondol, Semarang pada tanggal 27 Januari 1990 diresmikan oleh Menko Kesra Soepardjo Roestam dan Menko Polkam Soedomo disaksikan oleh Ketua PMI Pusat Ibnu Soetowo dan Gubernur Jawa Tengah, HM Ismail. Museum RekorDunia Indonesia kemudian popular dengan sebutan akronim MURI yang diberikan oleh Soepardjo Roestam pada upacara peresmian MURI. Tujuan kegiatan MURI murni pengabdian bakti-budaya dengan menghimpun data-data rekor superlatif yang hadir di Indonesia atau dibuat oleh putera-puteri bangsa Indonesia sebagai inspirasi penggugah semangat bangsa Indonesia untuk selalu berjuang mempersembahkan karsa dan karya yang terbaik di bidang keahlian masing-masing.MURI merupakan lembaga pertama di Indonesia yang khusus menghimpun data-data rekor superlatif di Indonesia. Pendirian dan pelaksanaan kegiatan MURI didukung sepenuhnya oleh kelompok- usaha JAMU JAGO.Ternyata sambutan masyarakat terhadap MURI luar biasa antusias hingga praktis setiap hari terjadi peristiwa penciptaan maupun pemecahan rekor di berbagai kota besar sampai pedesaan Indonesia yang diberitakan secara nasional mau pun internasional.Rekor-rekor yang diciptakan masyarakat untuk MURI bukan hanya rekor-nasional namun juga rekor-dunia. Kegiatan rutin MURI dilaksanakan Senior Manajer MURI, Paulus Pangka beserta staf kerabat-kerja MURI.Edisi perdana BUKU MURI atas prakarsa Wakil Ketua Umum MURI, Aylawati Sarwono akan diterbitkan PT Elex Komputindo, kelompok Gramedia pada HUT 19 dan ulang tahun ke-60 Pak jaya Suprana.

Museum dan Galeri.
Gedung MURI dibangun di kawasan industri Jamu Jago, Srondol Semarang. Luas ruang sekitar 600 m2 terdiri dari ruang ekshibisi data dan foto MURI, balai pertemuan dan ruang eskhibisi Museum Jamu Jago yang menampilkan foto-foto dan benda-benda bersejarah perusahaan Jamu Jago yang didirikan pada tahun 1918 di desa Wonogiri, Jawa Tengah oleh TK Suprana. Museum Rekor Dunia Indonesia terbuka untuk kunjungan umum tanpa dipungut biaya , setiap hari kerja Senin s/d Jumat mulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 14.00. Bagi kunjungan rombongan turis, siswa sekolah, lembaga dianjurkan membuat reservasi kunjungan selambat-lambatnya dua minggu di muka melalui nomor telpon 024-7475172 atau menulis e-mail ke info@muri.org

*sumber tulisan http://www.muri.org

Menyambut Ko Ngian , tahun baru imlek 2561 , Masyarakat Bangka Belitung berbaur dan berpartisipasi didalam memeriahkan Ko Ngian tersebut. Salah satu perhelatan massal yang dilakukan adalah  dengan memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan membuat Liong atau Naga dari bahan kayu dan kertas dan menempelkan Thiam Pan atau kue keranjang di badan Liong atau Naga tersebut. Panjang naga 312meter lebih, pembulatan ke bawah menjadi panjangnya 312 meter dengan total Thiam Pan atau kue keranjang yang ditempelkan sebanyak 20.000kue. Saat Ko Ngian atau Sincia, Liong bersama dengan Barongsay merupakan atraksi gabungan yang wajib untuk memberikan keceriaan tahun baru imlek. Pemainan Liong memberikan atraksi yang menunjukan hasil dari kerja seni dan kerja sama. Liong atau Naga adalah mahluk di dalam mitologi tiongkok kuno. Pada zaman Dinasti Ming Liong atau Naga dikisahkan memiliki 9 anak naga yang dalam dialek Hakka (khek)  sering disebut Kiuliung atau dalam dialek Kongfu  Kauwlung (kowloon).

Pertama, Pulao 蒲牢 (Baca : Phu Lau) atau Tulao (Baca : Thu Lau) karena lengking suaranya yang menbahana bila teraniaya, naga atau liong ini banyak dijadikan pegangan yang  menempel di pucuk genta. Kedua, Qiu Niu 囚牛 (Baca : Chiu Niu) adalah naga yang memiliki kemampuan musik, sehingga banyak terdapat di alat-alat musik. Ketiga, Chi Wen 螭吻 (Baca : Che Wen) adalah liong berbadan ikan tanpa tanduk yang suka menelan susuatu, ia banyak di jadikan ornamen atap rumah “supaya menelan yang jahat, api dan angin ribut”. Keempat, Chao Feng (Baca : Chau Feng) adalah naga yang berbadan mirip singa, umumnya sebagai ornamen yang diletakan pada keempat sudut atap rumah. Kelima Ya Zi 睚眥 (Baca : Ya Ce) liong yang bermuka buas, suka membunuh dan bertarung, banyak dijadikan hiasan pada gagang pedang. Bi Xi 贔屭 (Baca : Pi Si) liong yang berbadan kura-kura, menyukai satra dan ilmu pengetahun. Umumnya dijadikan monumen pada jembatan atau pemakaman-pemakanan kuno. Ketujuh Bi An 狴犴 (Baca : Pi An) wujudnya naga ini seperti macan, kuat dan bertenaga. Suka akan hukum dan kebenaran, sebagai ornamen pada gerbang-gerbang penjara. Kedelapan, Suan Ni 狻猊 (Baca : Suen Ni) liong yang ini suka duduk dan isap tembakau 喜烟好坐 wujudnya seperti singa, banyak dirupakan sebagai ornamen pada kaki hionglu atau tempat hiong (hio). Kesembilan, Ba Xia (Baca : Pa Sia) naga ini suka air dijadikan ornamen pada tiang kayu jembatan, pada zaman Dinasti Ming terdapat pula pada alat pembunuh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: